Saya menuliskan kisah ini setelah mendapat izin dari sang
empunya kisah. Tidak mengarang karena merupakan kisah sejati. Sang
empunya kisah berkenan jati dirinya dibuka asli asalkan saya tidak mencantumkan
asal dan alamatnya saja. Dia berharap kisahnya bisa menjadi pertimbangan
bagi saudara-saudara lain di tanah air sebelum berangkat kerja ke Arab Saudi.
Adalah Fatimah bt Boim, pembantu tetangga saya, yang hampir tiap hari bertemu
dengan saya. Anak asuhan Fatimah adalah teman sepermainan putera puteri
saya tiap hari. Sehingga Fatimah sudah menjadi teman saya hampir 2 tahun
terakhir. Kemarin Fatimah kirim sms, isinya : "Bun, ada di rumah,
mau main ya..penting nih"....wah tumben, biasanya Fatimah main tanpa harus
kirim sms dulu. Saya feeling ada hal penting. Saya jawab : "
Oke, Fatma, jam 11 malam ya...ditunggu " Sebelumnya jangan aneh dulu,
kenapa saya bisa janjian dengan Fatimah malam-malam. Itulah cara hidup
umumnya di Arab Saudi. Kami hidup bersosial, bercengkrama, umumnya di
malam hari, sampai sekitar jam 12-an malam. Apalagi musim libur,
anak-anak biasa bermain sampai jam 11 -an malam...itu potret kehidupan, sosial
kultur di Arab Saudi. Beda sekali dengan hidup di Indonesia yang pusat
aktivitas adalah pagi, siang, dan petang hari. Fatimah pun datang seperti yang
dijanjikan. Dia membawa anak asuhnya yang bungsu, anak cantik berumur 3
tahun. Setelah basa basi dan minum teh, saya pun menanyakan ada apa, koq,
sepertinya ada yang khusus ingin disampaikan pada saya. "Bun, saya mau
pulang, udah bilang ke majikan saya minta pulang nanti tanggal 15
Muharam." "oh, kenapa Fatmah, bukankah mau nambah satu tahun lagi
sampai habis paspor ?" " Saya terpaksa Bun, saya memang betah,
majikan baik, gaji lancar, tapi saya ada masalah keluarga." " Ya,
Allah, ada masalah apa ?" " Anak saya telpon ngasih tahu, bapaknya
nikah lagi Bun...bukan baru-baru ini, nikahnya bulan haji tahun lalu, persis
waktu saya lagi hajian, semua keluarga menyembunyikan...baru sekarang anak saya
ngasih tahu, karena takut saya pulang nanti saya kaget " "Sabar ya
Fatimah, rezeki, jodoh, semua ditangan Allah. Apa yang bisa Bunda bantu ?
" " Saya sadar, saya salah Bun...Sejak awal suami saya tidak
mengizinkan saya pergi ke Saudi lagi...saya durhaka tidak menurut pada suami...saya
tidak menyalahkan dia nikah lagi...tapi saya ingin pulang untuk menyelesaikan
rumahtangga saya...kalau tidak pulang saya tidak akan tenang...saya minta
tolong Bunda untuk bilang pada Madame saya agar jangan berat melepas saya
pulang...tadi Madame kelihatan keberatan,Bunda...saya juga kasihan sama Madame
saya...orangnya baik, gaji saya lancar, kalau tidak ada pembantu, susah
kuliahnya karena anak-anaknya gak ada yang ngasuh...tapi saya terpaksa."
"Baiklah Fatimah, bila itu keputusan yang sudah bulat, Bunda akan bantu bicarakan
dengan Madame-mu...Insya Allah Kheir." Fatimah bt Boim, umur 39 tahun,
berangkat dari Pt Yanbu Albahar, dan bekerja pada keluarga Tsamer Abdurahman
Nashef, tetangga saya... Fatimah bt Boim, bulan Haji tahun ini genap kontrak
kerja dua tahun. Sebenarnya Fatimah telah berniat memperpanjang kontrak
setahun lagi dengan perjanjian internal dengan majikannya adanya kenaikan gaji
menjadi SAR.1000 per bulan. Fatimah termasuk salah satu tkw yang beruntung,
mendapat majikan orang yang berpendidikan. Majikan laki-lakinya adalah
dosen di Universitas Attaibah, sedang majikan perempuannya sedang menyelesaikan
pasca sarjana, sebuah keluarga muda yang sibuk, dan sangat membutuhkan
kehadiran Fatimah untuk menjaga anak-anak dan mengasuh. Saya ingat dua tahun
lalu, Fatimah datang pada saya dengan bercucuran air mata, berkeluh kesah
karena anak-anak yang diasuhnya tidak mudah lengket padanya...anak-anak yang
dijadikan amanat utama dalam pekerjaan Fatimah, ternyata tidak mudah
menerima Fatimah menjadi pengasuhnya. Dengan kesabaran akhirnya lama-lama
anak-anak majikannya lengket pada Fatimah. Tahun pertama kerja, Fatimah
mendapat gaji SAR 800 per bulan. Menginjak tahun kedua, Fatimah diberi
hadiah menunaikan haji oleh majikannya dan gajinya dinaikkan menjadi SAR 900
per bulan. Rencananya tahun ketiga ini Fatimah akan mendapat gaji
SAR 1000 per bulan. Fatimah sudah menggunakan uang hasil kerjanya untuk
membeli sawah, kebun, memperbaiki rumah, dan beli motor...Motor inilah yang
kemudian, menurut anaknya, dijadikan mas kawin oleh suaminya untuk istri baru.
Saya tidak bisa melihat isi hati Fatimah yang paling dalam. Namun sebagai
seorang istri, saya bisa merasakan kepedihan Fatimah dan memahami kenapa dia
ingin pulang bulan Muharam, satu bulan lagi ke depan. Walaupun Fatimah
mengatakan dia merasa bersalah, dan merasakan bahwa semua ini salahnya karena
berangkat kerja ke Saudi tanpa restu suaminya...tetap saja sebagai perempuan
dia tidak rela. Namun, satu yang menarik dari seorang Fatimah bt Boim...ketika
melihat komputer saya menyala, dia menanyakan : "Bunda lagi tulis apa
?".....saya bilang : " FAtimah, ini Kompasiana, saya sedang
menulis untuk Kompasiana"....Lalu Fatimah bilang : " Bunda, jangan
lupa pesankan pada semua saudara saya yang kelak mungkin ingin kerja ke Saudi...janganlah
pergi bila suami tidak rela, tidak mendukung...lihat nasib saya...saya tidak
sabar ingin merubah derajat keluarga, ternyata kejadiannya begini...tolong ya
Bun...saya tidak ingin saudara saya yang lain mengalami nasib seperti
saya." (Dikisahkan Fatimah, di ruang keluarga saya, madinah, 30
oktober 2011, jam 23 KSA).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar