Fransisca sedang berada di makam ayahnya. Setelah selesai berdoa, dia menaburkan bunga-bunga. Sambil bersimpuh terkenanglah dia akan suatu peristiwa di waktu dia masih kecil….
Saat itu malam hari. Sisca dan ayahnya akan menonton pertunjukan sirkus. Ya, rombongan sirkus yang kali ini menyinggahi kota mereka adalah rombongan sirkus yang paling terkenal, bukan hanya di dalam negeri bahkan di luar negeri.
Oriental Sirkus, Sisca sudah lama sekali ingin menonton secara langsung pertunjukan sirkus tersebut. Hingga tibalah kesempatan langka ini di hari itu.
Ketika sedang mengantre karcis, Sisca sibuk bercerita pada ayahnya tentang badut-badut yang pernah ditontonnya di televisi. Lucu dan lincah. Tentang kuda-kuda poni yang gagah. Tentang para akrobat Trapeze yang beraksi di ketinggian. Tentang harimau yang buas tapi penurut. Tentang manusia meriam.
Anjing-anjing yang lucu. Banyak lagi…. Tanpa sadar, tahu-tahu mereka sudah dekat dengan bagian loket.Ternyata di depan mereka, ada satu rombongan keluarga besar yang terdiri dari seorang bapak, ibu dan empat orang anaknya sedang ikut mengantre. Dari pembicaraan yang terdengar, Sisca dan ayahnya tahu bahwa bapak dari ke-4 anak itu telah bekerja ekstra keras untuk dapat mengajak keluarganya menonton sirkus malam itu. Namun ketika sampai di loket dan hendak membayar, tiba-tiba wajah bapak 4 anak itu berubah pucat. Ternyata uang yang telah dikumpulkannya dengan susah payah tidak cukup, masih kurang Rp 100.000.
Pasangan suami istri itu pun saling berbisik, apakah salah satu dari mereka harus mengalah untuk tidak jadi menonton dan menunggu di luar saja sampai pertunjukan selesai atau memilih membatalkan saja menonton di hari itu dan pulang.
Tapi bagaimana harus menjelaskan kepada anak-anak mereka yang masih kecil itu? Padahal mereka tampak begitu gembira dan sudah tidak sabar lagi untuk segera masuk ke arena pertunjukan sirkus. Ditambah lagi, itu adalah pertunjukan di hari terakhir rombongan sirkus itu.
Tiba-tiba ayah Sisca menyapa bapak yang sedang kebingungan itu sambil berkata, "Maaf, Pak! Uang ini tadi jatuh dari saku Bapak." Kemudian, diserahkannya lembaran Rp 100.000 sambil tersenyum.
“Eh,… ini… ini….,” terbata-bata bapak itu menjawab. “Bukan, bukan.. itu bukan milik… sa….”
“Iya, pak. Ini punya bapak. Tadi jatuh dan saya memungutnya. Ini, ambillah!” sambil menyerahkan uang itu ke tangan si bapak, ayah Sisca mengedipkan matanya dan tersenyum.
Bapak tersebut menjadi terharu dengan apa yang dilakukan ayah Sisca. Dengan mata berkaca-kaca, ia menerima uang itu dan membisikkan terima kasih berulang-ulang.
“Iya, pak. Ini punya bapak. Tadi jatuh dan saya memungutnya. Ini, ambillah!” sambil menyerahkan uang itu ke tangan si bapak, ayah Sisca mengedipkan matanya dan tersenyum.
Bapak tersebut menjadi terharu dengan apa yang dilakukan ayah Sisca. Dengan mata berkaca-kaca, ia menerima uang itu dan membisikkan terima kasih berulang-ulang.
Setelah keluarga tadi masuk, Sisca dan ayahnya bergegas pulang. Mereka batal nonton sirkus, uang mereka untuk menyaksikan sirkus menjadi tidak cukup karena sudah diberikan kepada keluarga besar tadi. Tapi Sisca justru merasa sangat bahagia. Ia memang tidak dapat menyaksikan sirkus yang sangat terkenal itu, tetapi ia telah menyaksikan AYAHnya YANG LUAR BIASA. Kenangan ini selalu dijadikannya motivasi dalam berbuat suatu kebaikan….
Sebelum berlalu dari makam ayahnya, Sisca berbisik. “Yah, Sisca bangga pada ayah…”
Selesai.
Selesai.
Friends, kebahagiaan tidak hanya diperoleh ketika menerima pemberian orang lain, tetapi juga pada saat kita MAMPU MEMBERI. Cerita di atas juga menunjukkan bagaimana menolong orang lain dengan cara yang sangat halus, tanpa menyinggung harga diri orang yang ditolong. Terima kasih sudah membaca. Kalau ada karakter yang dirasa mirip-mirip,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar