Sabtu, 29 Agustus 2015

AYAH YANG LUAR BIASA

Fransisca sedang berada di makam ayahnya. Setelah selesai berdoa, dia menaburkan bunga-bunga. Sambil bersimpuh terkenanglah dia akan suatu peristiwa di waktu dia masih kecil….
Saat itu malam hari. Sisca dan ayahnya akan menonton pertunjukan sirkus. Ya, rombongan sirkus yang kali ini menyinggahi kota mereka adalah rombongan sirkus yang paling terkenal, bukan hanya di dalam negeri bahkan di luar negeri.
Oriental Sirkus, Sisca sudah lama sekali ingin menonton secara langsung pertunjukan sirkus tersebut. Hingga tibalah kesempatan langka ini di hari itu.
Ketika sedang mengantre karcis, Sisca sibuk bercerita pada ayahnya tentang badut-badut yang pernah ditontonnya di televisi. Lucu dan lincah. Tentang kuda-kuda poni yang gagah. Tentang para akrobat Trapeze yang beraksi di ketinggian. Tentang harimau yang buas tapi penurut. Tentang manusia meriam.
Anjing-anjing yang lucu. Banyak lagi…. Tanpa sadar, tahu-tahu mereka sudah dekat dengan bagian loket.Ternyata di depan mereka, ada satu rombongan keluarga besar yang terdiri dari seorang bapak, ibu dan empat orang anaknya sedang ikut mengantre. Dari pembicaraan yang terdengar, Sisca dan ayahnya tahu bahwa bapak dari ke-4 anak itu telah bekerja ekstra keras untuk dapat mengajak keluarganya menonton sirkus malam itu. Namun ketika sampai di loket dan hendak membayar, tiba-tiba wajah bapak 4 anak itu berubah pucat. Ternyata uang yang telah dikumpulkannya dengan susah payah tidak cukup, masih kurang Rp 100.000.
Pasangan suami istri itu pun saling berbisik, apakah salah satu dari mereka harus mengalah untuk tidak jadi menonton dan menunggu di luar saja sampai pertunjukan selesai atau memilih membatalkan saja menonton di hari itu dan pulang.
Tapi bagaimana harus menjelaskan kepada anak-anak mereka yang masih kecil itu? Padahal mereka tampak begitu gembira dan sudah tidak sabar lagi untuk segera masuk ke arena pertunjukan sirkus. Ditambah lagi, itu adalah pertunjukan di hari terakhir rombongan sirkus itu.
Tiba-tiba ayah Sisca menyapa bapak yang sedang kebingungan itu sambil berkata, "Maaf, Pak! Uang ini tadi jatuh dari saku Bapak." Kemudian, diserahkannya lembaran Rp 100.000 sambil tersenyum.
“Eh,… ini… ini….,” terbata-bata bapak itu menjawab. “Bukan, bukan.. itu bukan milik… sa….”
“Iya, pak. Ini punya bapak. Tadi jatuh dan saya memungutnya. Ini, ambillah!” sambil menyerahkan uang itu ke tangan si bapak, ayah Sisca mengedipkan matanya dan tersenyum.
Bapak tersebut menjadi terharu dengan apa yang dilakukan ayah Sisca. Dengan mata berkaca-kaca, ia menerima uang itu dan membisikkan terima kasih berulang-ulang.
Setelah keluarga tadi masuk, Sisca dan ayahnya bergegas pulang. Mereka batal nonton sirkus, uang mereka untuk menyaksikan sirkus menjadi tidak cukup karena sudah diberikan kepada keluarga besar tadi. Tapi Sisca justru merasa sangat bahagia. Ia memang tidak dapat menyaksikan sirkus yang sangat terkenal itu, tetapi ia telah menyaksikan AYAHnya YANG LUAR BIASA. Kenangan ini selalu dijadikannya motivasi dalam berbuat suatu kebaikan….
Sebelum berlalu dari makam ayahnya, Sisca berbisik. “Yah, Sisca bangga pada ayah…”
Selesai.
Friends, kebahagiaan tidak hanya diperoleh ketika menerima pemberian orang lain, tetapi juga pada saat kita MAMPU MEMBERI. Cerita di atas juga menunjukkan bagaimana menolong orang lain dengan cara yang sangat halus, tanpa menyinggung harga diri orang yang ditolong. Terima kasih sudah membaca. Kalau ada karakter yang dirasa mirip-mirip,

Potret Kehidupan Dunia Malam di kota Jakarta

       Jarum jam menunjuk pukul 22.45 ketika Raiya tiba-tiba muncul di antara kerumunan wanita bule di ruangan lantai tujuh Hotel A di Jalan Lodan Raya, Jakarta Utara, Jumat (19/10). Wanita berkebangsaan Uzbekistan berusia sekitar 45 tahun itu lalu duduk di depan seorang gadis berambut pirang yang mengenakan blus mini warna hitam.
“Cewek-cewek itu di sini kami sebut ladies company atau LC, sedangkan Raiya salah seorang agennya. Mereka berasal dari Uzbekistan. Di sini ada juga cewek Thailand, Vietnam, dan cungkok dari China. Ada juga yang lokal. Terserah Anda, mau yang impor atau lokal,” kata seorang pelayan di ruangan itu.


Sebutan LC sebenarnya sama dengan pramuria, sedangkan agen tak lain mami alias germo.

Di tempat hiburan itu terdapat belasan wanita muda asal Uzbekistan, selain belasan lain dari China, Thailand, dan Vietnam. Pekerja seks komersial (PSK) asal Uzbekistan rata-rata memasang tarif Rp 1,5 juta untuk sekali kencan singkat. Sementara tarif PSK asal negara Asia Timur rata-rata Rp 1 juta. Adapun PSK lokal memasang banderol Rp 800.000.


Gadis-gadis yang ada di ruangan itu berbaur dengan pengunjung umumnya mengenakan pakaian serba mini. Bahkan, beberapa di antaranya tak mengenakan baju, kecuali kutang dengan rok transparan.

Di lantai tujuh Hotel A juga ada ruang khusus untuk mandi atau berendam. Tersedia dua kolam kecil, yakni satu kolam air hangat dan satu lagi air dingin.

Setiap pengunjung pada saat berendam di kolam akan ditemani seorang pramuria. Seusai bilas, mereka bisa ke kamar di lantai enam atau duduk di sofa sambil menikmati minuman. Pengunjung bisa juga menonton penari telanjang di balik tirai transparan dekat kolam.

Pengunjung di lantai tujuh pada Jumat malam itu masih terbatas. “Meski belum begitu ramai, tamunya sudah lumayan. Setelah berendam, mereka langsung masuk kamar di lantai enam. Tarif yang sudah saya sebutkan itu untuk short time, selama satu jam 30 menit. Mau dibawa ke luar juga bisa, setelah jam kerja selesai pukul 01.00,” kata pelayan tempat itu.

Hotel A juga ada diskotek di lantai dasar. Di Jakarta Utara, Hotel A memang salah satu tempat hiburan yang selalu ramai dikunjungi.

Tempat-tempat hiburan, seperti mandi uap atau sauna, panti pijat, dan diskotek, di Jakarta mulai dibuka lagi sejak 16 Oktober setelah sebulan lebih tutup sejak awal Ramadhan lalu. Akan tetapi pengunjung mulai ramai mendatangi dan memadati tempat hiburan, terutama diskotek, pada Jumat malam itu.

Suasana Diskotek S sudah sama persis dengan situasi Jumat malam lain sebelum bulan puasa lalu. Di diskotek itu pengelola juga menyediakan PSK. Beberapa orang “mami” menawari pengunjung laki-laki- yang memasuki ruangan diskotek.

PSK juga dijumpai di lokasi pertunjukan musik hidup di satu lantai di bawahnya, yang sekaligus menyediakan kamar-kamar layanan kencan singkat.

WAJAH BARU

Ada wajah-wajah baru. Mereka kikuk mengenakan pakaian serba mini dan agak canggung menemani tamu. Salah satunya adalah Claudia, bukan nama sebenarnya, gadis belia yang baru berusia 15 tahun.

Tidak seperti gadis-gadis yang sudah mahir melayani tamu di dunia malam, Claudia kikuk, malu, dan tampak takut-takut. Dia berbicara seperlunya dan itu pun kalau diajak bicara. “Saya mulai kerja di sini sebulan lalu, tepat sebelum puasa,” katanya.

Gadis asal Bandung itu mengaku masih takut melayani tamu. Sebenarnya dia diajak oleh seorang mami yang menawarkan untuk bekerja sebagai pelayan minuman, bukan pekerja seks. Namun, dia kini sudah mulai mengerti tentang “dunia lain” itu meski tetap canggung.


Semua PSK yang menemani tamu di ruang musik hidup ini siap melayani laki-laki hidung belang. Mereka yang sudah biasa bekerja seperti itu lebih aktif mendatangi pengunjung yang duduk di bangku-bangku sambil mendengarkan musik.

“Kalau mau ngamar tarifnya Rp 285.000 hingga Rp 300.000 per jam. Boleh juga dibawa keluar,” kata Claudia dengan wajah tertunduk.

Pada Jumat malam itu “kehidupan malam” tidak hanya terdapat di dalam gedung. Sejumlah PSK pun secara terang- terangan menawarkan jasa di tepi Jalan Hayam Wuruk. Setiap pengendara mobil yang memperlambat gerak kendaraan langsung didekati.

Terdapat puluhan gadis muda berdiri antara Olimo hingga menjelang halte bus transjakarta di kawaan Harmoni.

“Untuk short time Rp 350.000, sudah termasuk dengan kamar hotel. Tetapi, kalau masuk diajak hotel lain juga bisa, tarifnya tetap,” ucap seorang PSK yang mengenakan celana pendek ketat.

“Apa yang kita dapat dari kehidupan malam seperti ini?” tanya seorang rekan seusai mengunjungi tempat-tempat hiburan itu. Saat itu jarum jam menunjuk pukul 03.00, Sabtu (20/10). Bagi penikmat hiburan malam, jawabannya pasti berbeda dengan yang tidak biasa.

Gambaran tentang kehidupan malam di Jakarta memang bervariasi, setidaknya seperti diwakili oleh tempat yang kami kunjungi. Apresiasi dan kesenangan atas “dunia tubuh” adalah sisi liar duniawi, dengan karakter banyak berseberangan dengan sisi lain kemanusiaan kita yang “canggung dan takut” seperti diwakili Claudia.

sumber : http://ardeza.blogspot.com/2013/02/inilah-potret-kehidupan-dunia-malam.html