Kamis, 03 September 2015

Potret Miris TKI Arab Saudi: Ditinggal Istri Bekerja, Suaminya Nikah Lagi

Saya menuliskan kisah ini setelah mendapat izin dari sang empunya kisah.  Tidak mengarang karena merupakan kisah sejati.  Sang empunya kisah berkenan jati dirinya dibuka asli asalkan saya tidak mencantumkan asal dan alamatnya saja.  Dia berharap kisahnya bisa menjadi pertimbangan bagi saudara-saudara lain di tanah air sebelum berangkat kerja ke Arab Saudi. Adalah Fatimah bt Boim, pembantu tetangga saya, yang hampir tiap hari bertemu dengan saya.  Anak asuhan Fatimah adalah teman sepermainan putera puteri saya tiap hari.  Sehingga Fatimah sudah menjadi teman saya hampir 2 tahun terakhir.  Kemarin Fatimah kirim sms, isinya : "Bun, ada di rumah, mau main ya..penting nih"....wah tumben, biasanya Fatimah main tanpa harus kirim sms dulu.  Saya feeling ada hal penting.  Saya jawab : " Oke, Fatma, jam 11 malam ya...ditunggu " Sebelumnya jangan aneh dulu, kenapa saya bisa janjian dengan Fatimah malam-malam.  Itulah cara hidup umumnya di Arab Saudi.  Kami hidup bersosial, bercengkrama, umumnya di malam hari, sampai sekitar jam 12-an malam.  Apalagi musim libur, anak-anak biasa bermain sampai jam 11 -an malam...itu potret kehidupan, sosial kultur di Arab Saudi.  Beda sekali dengan hidup di Indonesia yang pusat aktivitas adalah pagi, siang, dan petang hari. Fatimah pun datang seperti yang dijanjikan.  Dia membawa anak asuhnya yang bungsu, anak cantik berumur 3 tahun.  Setelah basa basi dan minum teh, saya pun menanyakan ada apa, koq, sepertinya ada yang khusus ingin disampaikan pada saya. "Bun, saya mau pulang, udah bilang ke majikan saya minta pulang nanti tanggal 15 Muharam." "oh, kenapa Fatmah, bukankah mau nambah satu tahun lagi sampai habis paspor ?" " Saya terpaksa Bun, saya memang betah, majikan baik, gaji lancar, tapi saya ada masalah keluarga." " Ya, Allah, ada masalah apa ?" " Anak saya telpon ngasih tahu, bapaknya nikah lagi Bun...bukan baru-baru ini, nikahnya bulan haji tahun lalu, persis waktu saya lagi hajian, semua keluarga menyembunyikan...baru sekarang anak saya ngasih tahu, karena takut saya pulang nanti saya kaget " "Sabar ya Fatimah, rezeki, jodoh, semua ditangan Allah. Apa yang bisa Bunda bantu ? " " Saya sadar, saya salah Bun...Sejak awal suami saya tidak mengizinkan saya pergi ke Saudi lagi...saya durhaka tidak menurut pada suami...saya tidak menyalahkan dia nikah lagi...tapi saya ingin pulang untuk menyelesaikan rumahtangga saya...kalau tidak pulang saya tidak akan tenang...saya minta tolong Bunda untuk bilang pada Madame saya agar jangan berat melepas saya pulang...tadi Madame kelihatan keberatan,Bunda...saya juga kasihan sama Madame saya...orangnya baik, gaji saya lancar, kalau tidak ada pembantu, susah kuliahnya karena anak-anaknya gak ada yang ngasuh...tapi saya terpaksa." "Baiklah Fatimah, bila itu keputusan yang sudah bulat, Bunda akan bantu bicarakan dengan Madame-mu...Insya Allah Kheir." Fatimah bt Boim, umur 39 tahun, berangkat dari Pt Yanbu Albahar, dan bekerja pada keluarga Tsamer Abdurahman Nashef, tetangga saya... Fatimah bt Boim, bulan Haji tahun ini genap kontrak kerja dua tahun.  Sebenarnya Fatimah telah berniat memperpanjang kontrak setahun lagi dengan perjanjian internal dengan majikannya adanya kenaikan gaji menjadi SAR.1000 per bulan. Fatimah termasuk salah satu tkw yang beruntung, mendapat majikan orang yang berpendidikan.  Majikan laki-lakinya adalah dosen di Universitas Attaibah, sedang majikan perempuannya sedang menyelesaikan pasca sarjana, sebuah keluarga muda yang sibuk, dan sangat membutuhkan kehadiran Fatimah untuk menjaga anak-anak dan mengasuh. Saya ingat dua tahun lalu, Fatimah datang pada saya dengan bercucuran air mata, berkeluh kesah karena anak-anak yang diasuhnya tidak mudah lengket padanya...anak-anak yang dijadikan amanat utama dalam pekerjaan Fatimah, ternyata tidak mudah menerima Fatimah menjadi pengasuhnya.  Dengan kesabaran akhirnya lama-lama anak-anak majikannya lengket pada Fatimah. Tahun pertama kerja, Fatimah mendapat gaji SAR 800 per bulan.  Menginjak tahun kedua, Fatimah diberi hadiah menunaikan haji oleh majikannya dan gajinya dinaikkan menjadi SAR 900 per bulan.  Rencananya tahun ketiga ini Fatimah akan mendapat gaji SAR 1000 per bulan.  Fatimah sudah menggunakan uang hasil kerjanya untuk membeli sawah, kebun, memperbaiki rumah, dan beli motor...Motor inilah yang kemudian, menurut anaknya, dijadikan mas kawin oleh suaminya untuk istri baru. Saya tidak bisa melihat isi hati Fatimah yang paling dalam.  Namun sebagai seorang istri, saya bisa merasakan kepedihan Fatimah dan memahami kenapa dia ingin pulang bulan Muharam, satu bulan lagi ke depan.  Walaupun Fatimah mengatakan dia merasa bersalah, dan merasakan bahwa semua ini salahnya karena berangkat kerja ke Saudi tanpa restu suaminya...tetap saja sebagai perempuan dia tidak rela. Namun, satu yang menarik dari seorang Fatimah bt Boim...ketika melihat komputer saya menyala, dia menanyakan : "Bunda lagi tulis apa ?".....saya bilang :  " FAtimah, ini Kompasiana, saya sedang menulis untuk Kompasiana"....Lalu Fatimah bilang : " Bunda, jangan lupa pesankan pada semua saudara saya yang kelak mungkin ingin kerja ke Saudi...janganlah pergi bila suami tidak rela, tidak mendukung...lihat nasib saya...saya tidak sabar ingin merubah derajat keluarga, ternyata kejadiannya begini...tolong ya Bun...saya tidak ingin saudara saya yang lain mengalami nasib seperti saya." (Dikisahkan Fatimah, di ruang keluarga saya, madinah, 30 oktober 2011, jam 23 KSA).